HISTORY PEREKONOMIAN INDONESIA

 

Pendahuluan

    Kita semua tahu krisis multidimensi yang berawal dari krisis moneter 1997 telah membawa berbagai dampak merugikan. Banyak peusahaan yang gulung tikar, ratusan ribu orang kehilangan sumber nafkah, para balita harus menerima jatah susu yang kian sedikit, para lanjut usia harus benar-benar hemat dalam mengonsumsi obat, dan para ibu harus jungkir balik dalam mengatur anggaran belanja rumah tangga. Kehidupan ekonomi menjadi kian berat, dan hal itu terasakan bukan hanya oleh mereka yang papa. Yang sejak dulunya memang sudah sulit sekedar untuk mengis perut, namun juga mayoritas penduduk, termasuk kelas menengah yang relatif mapan. Biaya krisis tak terperikan mencapai hampir separuh dari seluruh PDB yang dihasilkan bangsa ini. Belum terhitung biaya sosial dan biaya kesempatan yang hilang. Akibatnya, tingkat kesejahteraan melorot dan belum kunjung melampaui tingkat sebelum krisis.

    Hitung-hitungan finansialnya sangat nyata. Kalau biaya krisis yang dihitung hanya beban pengeluaran pemerintah. Pemerintah telah mengeluarkan surat utang dan obligasi rekapitalisasi mungkin di perkirakan sebesar 650 triliun. Sebegai penggantinya pemerintah mengambil alih seluruh kredit macet dan harta kekayaan maupun sejumlah perusahaan para pengutang yang terkonsentrasi pada para penghutang atau obligor kelas konglomerat.

Isi

    Memang kebobrokan kumulatif yang terjadi semasa orde baru sedemikian sangat parah nya, membuat sendi-sendi perekonomian menjadi sangat rapuh. Krisis menguakkan semua luka dan isi perut perekonomian. “keperkasaan” ekonomi di masa orde baru ternyata diselubungi oleh benalu dan lintah yang menyedot darah perekonomian tubuh yang tambun dan perut buncit yang kerap di bangga-banggakan itu ternyata berisi segrombolan cacing dan virus yang setiap saat menyantap dengan lahapnya makanan yang masuk kedalam perut perekonomian indonesia.

    Harus ada upaya untuk memastikan apakah keseluruhan beban rakyat memang sepenuhnya merupakan biaya krisis ataukah ada sebagian yang tak pantas dibebankan kepada rakyat karena adanya unsur manipulasi, kesalahan manajemen ataupun kesalahan di tingkat kebijakan. Setelah mengurai masalahnya, barulah kita bisa mengetahui tanpa prasangka lagi siapa bertanggung jawab untuk apa dan seberapa besar tanggung jawab masing-masing pihak.

    Tentu saja beban krisis tak sepatutnya ditumpahkan kepada pemerintahan di era reformasi semata. Namun, siapa yang tengah berkuasa seharusnya dapat memberikan penjelasan yang memadai, syukur-syukur solusi, bukannya malah angkat tangan. Karenanya tidak usah heran kalau masyarakat lantas berprasangka bahwa pemerintah sekarang semakin membuat masalah menjadi keruh dan turut berpesta pora menyantap bangkai krisis demi untuk kepentingan pribadi, kelompok ataupun partai, semuanya atas beban rakyat yang terus bertambah. Krisis 1998 tidak saja telah menghancurkan orde baru, namun juga akan menjadi dan meninggalkan beban raksasa bagi siapa saja yang menjadi pemimpin.

    Tidak semua hal yang dimunculkan krisis itu buruk. Kalau mau berkontemplasi mencari hikmahnya, paling tidak kita patut bersyukur krisis itu menjadi sumber kekuatan baru untuk melawan kesewenang-wenangan dan penindasan politik yang sudah berlangsung lebih dari tiga dasawarsa. Dalam segala sesuatu yang memunculkan kesulitan, dalam waktu bersamaan juga menumbuhkan peluang. Krisis multidimensional di indonesia semestinya disikapi seperti itu, yakni sebagai momentum untuk memperbaiki diri secara menyeluruh. Terpulang kepada kita sendiri untuk terus meratapi nasib, membiarkan diri kian terpuruk, atau berusaha bangkit dan berdiri lebih tegak, meskipun untuk itu diperlukan perjuangan, kesungguhan, pengorbanan dan kerja keras yang luar biasa.

Penutup

    Salah satu langkah cerdas yang harus dilakukan adalah memahami apa saja yang sudah terjadi, mempelajari apa yang menjadi penyebabnya, serta memeras otak untuk memetakan semua persoalan dan merumuskan langkah solusinya secara konkret. Dalam kaitan itu, ada satu hal penting yang sudah berlangsung namun tidak banyak diperhatikan, yakni bahwa berbagai sendi perekonomian indonesia ternyata mengalami perubahan akibat krisis itu. Trend atau kecenderungan gerak jangka panjang indikator makroekonomi mengalami perubahan arah. Kita semua harus secepatnya mengalami hal itu, lantas mempelajari apa saja yang menjadi sumber kelemahan kita, dan selanjutnya mengambil tindakan yang diperlukan guna menghadapinya, agar kita tidak kian susah di kemudian hari.     

DAFTAR PUSTAKA

BUKU LANSKAP EKONOMI INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s